Komitmen

Kita sudah tahu, merokok sangat merugikan kesehatan, bukan hanya terhadap diri sendiri sebagai perokok aktif, melainkan juga bagi orang yang berada di sekitar kita atau perokok pasif. Peringatan ini sudah ditegaskan pada setiap bungkus rokok. Walaupun begitu, herannya banyak orang mengabaikannya dan terus menjadi perokok aktif.

Menghilangkan kebiasaan merokok adalah pekerjaan maha sulit bagi perokok meskipun bukan sesuatu yang mustahil. Banyak para pecandu yang berhasil menghentikan kebiasaan ini, dan menurut mereka satu-satunya kiat untuk berhenti adalah; komitmen kuat untuk berhenti merokok!

Ya, sebuah komitmen. Komitmen itu lebih dari sekedara janji. Komitmen merupakan janji kepada diri sendiri yang harus ditepai! Ketika kita berkomitmen untuk berhenti merokok, artinya kita tengah berjanji kepada diri sendiri untuk meninggalkan kebiasaan buruk itu. Tidak terlalu salah jika ada sahabat berkata” Janji kepada orang lain lebih mudah ditepati daripada kepada janji diri sendiri”.

Mengingkari janji kepada orang lain dapat merudask ciitra kita dihadapannya. Oleh sebab itu, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk memenuhinya. Namun, ketika kita mengingkari janji kepada diri sendiri, oranglain takkan mengubah pandangannya kepada kita karena merka tidak tahu. Bukankah godaan untuk berbuat kejahatan lebih tinggi jika tidak ada polisi di sekitar kita? Di akhir tayanganTV swasta, bang nap selalu berpesan pada kita, “ kejahatan terjadi bukan hanya karena niat pelakunya, tapi melainkan karena ada kesempatan”.

Memenuhi janji berarti telah menjalankan tanggung jawab dengan baik.Demikian juga halnya dengan komitmen, selain tanggung jawab sebagai pagarnya, ia juga membutuhkan tekad kuat dan keberanian untuk menanggung resiko. Ketika memutuskan untuk berhenti merokok , seorang sahabat pecandu berat mengakui betapa bertanya perjuangan yang ia lakukan. Saat mulai mencoba untuk berhenti, keinginan merokok justru semakin membesar  sehingga hanya komitmen kuatlah yang mampu meghalau segala godaan untuk melanggar janjinya.

Niat dan motivasi merupakan bekal untuk membangun komitmen. Ketika menjalankan ibadah puasa pada bulan ramadhan, niat kita hanyalah mencari ridha Allah sehingga keendati bisa makan atau minum tanpa sspengetahuan orang lain, kita tetap berusaha menghindarinya.Hasilnya, kita pun sukses bepuasa sebulan penuh mskipun kita punya kebiasaan makan dan minum di siang hari pada bulan-bulan lain.

Komitme juga butuh keberanian untuk tidak menyerah pada kegagalan. Billi P.S. Lim berkata “ kunci keberhasikan sesungguhnya terletak pada keberanian kita untuk menerima kegagalan”.

Dipublikasi di Motivasi, Uncategorized | Tinggalkan komentar

Kunci Sukses Usaha Maksimal

Kunci adalah alat terpenting untuk membua pintu yang tertutup. Untuk membuka pintu yang bernama usaha maksimal, kitapun memutuhkan kunci yang tepat. Menurut saya, kunci tersebut ada dua yaitu; 1. Ridha dan ikhlas, 2. Mengikuti hati nurani.

Ridha dan ikhlas. Ridha adalah kemamuan menerima segala kehendak Tuhan dengan perasaan senang atau bahagia. Sementara ikhlas adalah kemampuan untuk melakukan segala sesuatu dengan rela  tanpa mengharap pamrih apapun selain Ridha-Nya.

Dengan keridhaan dan keikhlasan, kita akan mampu memaksimalkan potensi fisik dan pikiran. Oleh karena itu, Sebelum memulai suatu usaha, kita harus membekali diri dengan keduanya. Kekuatan ridha membuat kita siap jika sewaktu-waktu hasil dari usaha kita tidak sesuai harapan meskipun kita merasa telah berusaha maksimal. Sementara, kekuatan ikhlas mampu membuat kita senang dalam berusaha, dan kita menyadari bahwa bekerja merupakan bagian dari ibadah, dan salah satu cara maraih ridha Ilahi.

Kombinasi kemampuan untuk memberi segala potensi diri  dengan sukarela serta kemampuan menerima takdir atas hasil usaha, akan membentuk karakter kita menjadi manusia tangguh dan senantiasa berusaha maksimal. Manusia seperti ini memiliki kepercayaan penuh bahwa tugasnya adalah berusaha dengan maksimal, sedang hasilnya mutlak terserah Tuhan.

Mengikuti hati Nurani. Hati nurani merupakan nilai-nilai ilahi yang terdapat dalam diri setiap insani. Kebenaran dari hati nurani tak perlu diragukan lagi karena nilai-nilai Ilahi takkan pernah salah. Bila diikuti, hati nurani akan memandu kita untuk berbuat benar dan menghindari perbuatan menyimpang. Hati nurani selalu membimbing kita agar tidak tersesat. Hati nurani adalah cahaya yang menerangi jalan kita.

Sebelum memutuskan untuk melakukan suatu usaha, dengarkan dulu bisikan hati nurani. Apabila usaha tersebut bertentangan dengan hati nurani takkan membuahhkan ketenangan. Kalaupun tetap dipaksakan, hasilnya takkan pernah maksimal. Sebab pikiran yang di hantui rasa bersalah takkan pernah bisa borkosentrasi pada usaha yang dilakkannya.

Sebaliknya, bila usaha yang akan kita lakukan sejalan dengan hati nurani, kita tak perlu ragu untuk melakukannya meskipun dalam penilaian khalayak umum usaha tersebut tidak lazim atau bertentangan dengan kebiasaan. Kita harus waspada, apa yang benar menurut manusia, belum tentu benar di mata Tuhan. Satu-satunya tolak ukur yang dapat digunkan untuk menilai suatu usaha hanyalah hati nurani.

Dipublikasi di Motivasi | Tinggalkan komentar

Hidup adalah Bermakna

Untuk apa   orangtua kita bekerja keras setiap hari? Untuk apa saudara  saudara kita dari daerah berbondong-bondong datang ke kota mencari pekerjaan? Untuk apa adik adik kita yang baru lulus SMA sibuk belajar di tempat-tempat bimbingan belajar? Semua itu pasti ada maksud dan tujuannya. Orangtua kita bekerja dengan keras dengan memeras keringat dan membanting tulang agar kita bisa menikmati makanan bergizi, hidup layak, dan bisa membiayai anak-anaknya . Sementara saudara-saudara kita mengadu nasib di kota bear karena ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan berpenghasilan yang lebih besar. Mereka ingin mengubah nasib.

Lain lagi tujuan adik-adik kita yang tekun mengikuti bimbingan belajar.Mereka ingin diterima diperguruan tinggi favorit dapat memudahkan mereka dalam memperoleh pekerjaan.

Jika tidak ada maksud dan tujuan, mana mungkin orangtua kitamau bekerja keras, adik-adik kita mau ikut bimbingan belajar, dan saudara-saudara kita dari desa merantau ke kota? Kita rela enempuh segala kesusahan dan beragam resiko karena kita tahu, ada sesuatu  yang layak diperjuangkan. Begitu juga dengan hidup. Untuk apa kita bekerja tapi tidak tahu arti dan makna dan tujuannya? Untuk apa kita datang ke jakarta kalau tak punya tujun? Untuk apa kita begitu rajin ikut bimbingan belajar jika kita tidak punya tujuan?

Memilik makna dan tujuan hidup berarti memiliki pelita untuk berjalan dalam kegelapan. Kita menajadi tahu ada yang perlu diperjuangkan selama menjadi hidup yang singkat ini.

Dipublikasi di Motivasi | Tinggalkan komentar

Over the past few years, implementing a comprehensive structural reform programme has been the cornerstone of government policy to stimulate longterm economic activity. A major aim of this programme has been to address weaknesses in the financial system,an aim that Bank Indonesia, the country’s central bank, has also tirelessly pursued. In particular, it has concurrently implemented three major efforts to accomplish this goal.

First, enhanced capital adequacy requirements for financial institutions have been formulated and adopted to strengthen the banking sector. Second, Bank Indonesia has overhauled its regulatory infrastructure by adopting risk-based bank supervision and examanation methodologies and by raising disclosure requirements to encourage increased transparency. These measures have already begun to help restore confidence in the viability of the country’s banking sector and have contributed to reducing system risk. Bank Indonesia aims to comply with international best practices by creating the regulation infrastructure needed to adopt the upcoming New Basel Capital Accord, to ensure the health and vitality of the country’s banking sector.

Third, Bank Indonesia in conjuction with the Ministry of Finance, the Capital Market Supervisory Agency (Bapepam) and other relevant government agencies has been promoting the development of legal, clearing and regulatory infrastructure. However, Bank Indonesia is fully aware of the difficulty and time-consuming nature of this task. Such measures are preconditions for capital market development, but markets will only grow when market players begin to participate in the process, something that will only occur once a comprehensive range of eeconomic, technical and political factors are in place that will foster confidence.

Indonesia has systematically adopted stel-by -step practical approach, based on collaboration among all government agencies, to creating an environment in which these economic, technical and political factor build confidence and lead to the robust development of the capital markets. An equity market and a rudimentary bond market is now a primary focus. A primary stage of Bank Indonesia’s strategy is to establish a comprehensive market for goverment bonds, which will eventually become the backbone of the corporate and other sesctors of the bond market that are likely to emerge. The market for goverment bonds will help provide a benchmark yield curve and establish the overall credit curve according to which all other issues will be priced.

Taut | Posted on by | Tag | Tinggalkan komentar

Saya sepakat dengan salah satu kesimpulan buku the Dance of Change yang ditulis Sutanto, J (2009) bahwa tantangan keberlanjutan peradaban masa depan adalah bagaimana manusia bisa mengelola perubahan yang bisa menari dalam perubahan. Kemudian untuk mengelola perubahan tersebut, menurut hemat saya, diperlukan pemimpin pada setiap lini kelembagaan pemeeintah dan swasta, bahkan didalam keluarga, agar gerak roda perubahan ini mencapai visi yang lebih baik. Oleh karena itu, salah satu tantangan besar umat manusia kedepan adalah memilih pemimpin dan menjadi pemimpin di berbagai lini kehidupan.

Dalam kehidupan sehari hari, pemimpin adalah orang yang diberi atau mendapat amanah memimpin, sedangkan kepemimpinan adalah kemampuan memimpin. Seorang pemimpin perlu kecerdasan di samping ketrampilan manajemen dan stratejik. Seorang pemimpin selalu mempunyai pengikut dan membawa pengikutnya memandang jauh ke depan (Visioner) pada suatu kehidupan yang lebih baik. Kepemimpinan membutuhkan kemampuan mempengaruhi atau daya pikat untuk mempengaruhi pengikutnya dalam rangka mencapai tujuan bersama.

Pada dasarnya setiap kita adalah pemimpin dengan lingkungan tanggung jawab dan dampak yang berbeda. Paling tidak, setiap kita adalah pemimpin diri sendiri, yaitu mengarahkan,mengendalikan, dan mengubah keinginan sendiri dalam mencapai tujuan hidup. Pemimpin dalam keluarga tentu mempunyai lingkup yang lebih kecil dibandingkan dengan pemimpin di suatu masyarakat, bahkan pemumpin di suatu daerah dan bangsa. Namun, semua pemimpin tersebut dibutuhan, bahkan saling terkait perannya satu sama lain, dalam suatu sistem kepemimpinan. Bertambah tinggi kedudukan seorang pemimpin dan semakin diperlukan ketrampilan stratejinya.

Salah satu ciri utama pemimpin prolingkungan hidup adalah ciri pemimpin masa depan, yaitu memiliki kecerdasan holistik. Artinya, pemimpin dominan kecerdasan intelektual, terbentuklah pemimpin yang serakah atau kapitalis. Apabila dominan emodional dan spiritual, terbentuklah pemimpin yang pasrah. Apabila dominan kecerdasan natural, terbentuklah pemimpin yang serba memproteksi lingkungan hidup dan mematikan kegiatan ekonomi.

Taut | Posted on by | Tinggalkan komentar

http://wp.me/p2IShy-u

Taut | Posted on by | Tinggalkan komentar

Multikulturalisme adalah Basis Kewargaan

Keragaman, atau kebinekaan
atau multikulturalisme merupakan salah satu realitas utama yang dialami masyarakat dan kebudayaan dimasa silam, lebih lebih lagi pada masa kini dan di waktu waktu mendatang. Multikulturalisme secara sederhana dapat dipahami sebagai pengakuan,bahwa sebuah negara atau masyarakat adalah beragam dan majemuk. Sebaliknya, tidak ada satu negarapun yang mengandung hanya kebudayaan tunggal.

Tetapi, penting dicatat, keragaman itu hendaklah tidak diinterprestasikan secara tunggal. Lebih jauh, konitmen untuk mengakui keragamaan sebagai salah satu ciri dan karakter utama mastarakat – masyarakat dan negara – bangsa tidaklah berarti ketercerabutan, revalitisme kultural, disrupsi sosial atau konflik berkepanjangan pada setiap komunitas, masyarakat dan kelompok etnis dan rasial. Sebab, pada saat yang sama sesungguhnya juga terdapat berbagai simbol, nilai, struktur dan lembaga dalam kehidupan bersama yang mengikat berbagai keragamaan tadi.

Semuanya ini, dan lebih khusus lagi, lembaga – lembaga, struktur – struktur, dan bahkan pola tingkah laku memiliki fokus tertentu terhadap kolaborasi, kerja sama, mediasi dan negosiasi untuk menyelesaikan berbahai perbedaan. Dengan demikian, mereka potensial untuk menyelesaikan konflik yang dapat muncul dan berkembang sewaktu – waktu. Semua simbol, nilai, struktur, dan lembaga tersebut juga sangat menekankan kehidupan bersama, saling mendukung dan menghormati satu sama lain dalam berbagai hak dan kewajiban personal maupun komunal, dan lebih jauh lagi masyarakat nasional.

Pada tahap ini, komimen terhadap nilai nilai tidak dapat dipandang berkaitan hanya dengan eksklusivisme personal dan sosial,atau dengan superioritas kultural, tetapi lebih jauh lagi dengan kemanusiaan. Semua ini juga mencakup komitmen dan kohesi kemanusiaan melalui toleransi, saling menghormati hak – hak personal dan komunal. Manusia, ketika berhadapan dengan berbagai simbol, doktrin, prinsip dan pola tingkah laku, sesungguhnya mengungkapkan dan sekaligus mengidealisasikan komitmen kepada kemanusiaan baik secara personal maupun komunal dan kebudayaan yang dihasilkannya.

Dipublikasi di Motivasi | Tinggalkan komentar